Opini

Pengakuan

Pengakuan. Ya, semua manusia di dunia ini pasti menginginkan yang namanya pengakuan. Siapapun, apapun derajatnya, apapun pekerjaannya, apapun statusnya. Pengakuan bisa berasal dari mana saja, dari rekan kerja, dari keluarga, dari teman dekat. Pengakuan yang paling diharap tentu saja dari orang terdekat dan yang dicinta. Merasa diakui dan dihargai atas kerja kerasnya selama ini. Manusia mana yang tidak senang diakui dan dipuji? Karena pada dasarnya manusia senang atas pujian dan penghargaan. Manusia menginginkan keberadaannya di dunia ini “terlihat” oleh manusia lain. Dan kalau bisa menjadi superior diantara yang lain. Sehingga jati diri akan lebih menonjol dan pujian akan lebih cepat datang.

Pengakuan. Teringat beberapa waktu yang lalu, saat saya satu bus dengan seorang direksi ASTR*. Beliau berkata bahwa, saat ini mungkin saya belum dianggap apa-apa oleh siapapun (saat itu saya masih semester 8 dan akan segera lulus). Walaupun dengan bermodal IPK bagus, pengalaman organisasi dan pengalaman magang yang mumpuni, saya tetap tidak akan punya value di mata siapapun. Karena kata beliau saya masih butuh pengakuan. Dari banyak orang. Utamanya dari orang-orang “besar” dan “berkuasa”. Menurut pengalaman beliau, dulu beliau juga tidak dianggap oleh siapapun, tapi sekarang semua hormat padanya. Semua akhirnya bisa “melihat” skill dan knowledge yang beliau miliki. Karena apa? Sebuah pengakuan, dari banyak orang. Beliau melanjutkan ceritanya, ibarat biji, mahasiswa yang mau lulus seperti saya bisa dikatakan masih menjadi tunas kecil, yang mudah terinjak, tidak akan dilirik orang, dan mudah dilupakan siapa pun yang melewati tunas ini. Tapi tunas akan berkembang menjadi pohon seiring berjalannya waktu. Dan apabila waktunya telah tiba, tunas kecil yang dulu tidak dianggap oleh siapapun, akan terlihat dan menjadi “primadona” diantara pohon-pohon lain. Dan, tentu saja, diakui. Tapi tentu saja semua itu perlu cost yang tidak kecil. Perlu perjuangan mahal, tenaga, modal, dan pikiran. Tunas akan tetap menjadi tunas, apabila tidak tahu cara develop menjadi pohon besar.

Sekali lagi, pengakuan berperan penting. Dalam hal apapun. Pekerjaan, sekolah, rumah tangga, pertemanan, dan segala hal yang ada hubungannya dengan hubungan antar manusia.

Tapi, apakah akan menjadi suatu masalah apabila orang lain tidak mengetahui kerja keras kita?
Apakah menjadikan keputus-asaan apabila tidak ada satupun orang yang mengetahui kerja keras kita?
Apakah kita akan hancur selama tidak ada yang menoleh bahkan melirik kemampuan kita?
Apakah kita lupa, kalau ada Allah SWT yang Maha Melihat, Maha Mengetahui?
Apakah kita lupa, bahwa semua kerja keras (yang tentunya bertujuan baik) akan dicatat sebagai amalan baik oleh Allah SWT?

Pengakuan dari manusia memang penting, tapi tidak perlu sampai di-dewa-kan. Boleh saja kita menginginkan pujian dan pengakuan, tapi sampai hal itu menjadikan kita riya’ dan sombong di bumi Allah SWT. Kita tetap harus bekerja keras agar menjadi lebih baik lagi, dan pengakuan dari sesama manusia itu hanya sebagai “bonus tambahan” atas usaha kita. Pengakuan dari Allah SWT akan menjadi hal yang paling didambakan manusia beriman. Pengakuan tak terbatas, yang akan membawa kebahagiaan hakiki.

“Every human need being recognize by others, but the most important things is being recognized by Allah and Rasulullah (PBUH)” – me, myself

Taipei, Taiwan
Thursday, June 14th, 2012
3-311/3, 22:35
in the middle of build our branding (mM)

*Artikel ini sebelumnya telah saya post di blog saya sebelumnya
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s