Opini

Penghargaan

Berlanjut dari pembahasan sebelumnya yaitu Pengakuan, kali ini saya akan memberikan opini saya mengenai Penghargaan.

Siapa sih yang tidak mau dihargai? Diberi penghargaan. Penghargaan dalam bentuk apapun. Baik dalam bentuk nyata (memberi hadiah atau barang), pujian, maupun dalam bentuk perhatian. Sebagai manusia biasa, tak salah jika mengharap penghargaan atas sesuatu yang telah dikerjakannya. Penghargaan terbesar dan the most precious appreciation  adalah mendapatkan piagam penghargaan atau benda-benda semacam itu. Tapi menurut saya, itu adalah pikiran beberapa manusia yang menganggap penghargaan adalah benda nyata dan terlihat oleh banyak orang. Berbeda dengan beberapa orang yang sudah sangat puas menerima penghargaan dalam bentuk perhatian. Apalagi kalau perhatian itu berasal dari orang yang dia sayangi. Ada lagi (tapi mungkin sangat jarang), orang-orang yang tidak membutuhkan penghargaan dari manusia manapun di muka bumi ini. Mereka adalah orang-orang yang ikhlas dan melakukan segala sesuatunya tanpa mengharap “dilihat” dan dihargai oleh manusia lain.

Perbedaan pengakuan dan penghargaan menurut saya adalah bentuk dan modelnya. Pengakuan diucapkan baik secara lisan maupun dalam hati saja, sementara penghargaan dapat berupa bentuk nyata maupun pujian dan perhatian antar sesama manusia.

Itu bentuk penghargaan dalam konteks hubungan antar manusia. Namun bagaimana apabila konteksnya hubungan secara vertikal dengan Sang Khalik? Pernahkan kita berpikir bagaimana bentuk penghargaan terindah bagi Sang Maha Segalanya?

Setiap hari kita bernafas.. gratis
Setiap hari jantung kita terus memompa darah ke seluruh tubuh.. gratis juga
Setiap hari tangan dan kaki kita bebas bergerak.. gratis
Banyak nikmat Allah yang kita lalaikan, tanpa memberikan “penghargaan” kepada-Nya

Bentuk penghargaan seorang hamba kepada Sang Pencipta adalah mengikuti perintah-Nya, beribadah dengan ikhlas dan khusyu’, bertaubat, dan tidak bermaksiat. Seorang hamba hendaknya selalu berikhtiar untuk menjadi lebih baik dan lebih dekat dengan Allah setiap detik. Karena nyawa akan berkurang setiap detiknya, dan kita tidak pernah tahu kapan “undian” giliran menghadap Allah itu akan keluar.
 
“Hargai sesamamu seperti menghargai dirimu sendiri.” – Dini, 2012
“Penghargaan terbesar seorang hamba kepada Sang Pencipta adalah sholat tepat waktu.” – Dini, 2012

Taipei, Taiwan
Senin, 18 Juni 2012
3/311/3, 1:56
Di tengah membangun Radio FORMMIT 🙂

*Artikel ini telah saya post di blog saya yang sebelumnya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s