Short Stories

Pengalaman Periksa Mata di Klinik Mata Netra Bandung

Hari ini (setelah 2 hari tertunda), akhirnya saya memutuskan untuk memeriksakan kedua mata saya ke Klinik Mata Netra yang berada di Jalan Supratman, Bandung. Lokasinya tak jauh dari kantor saya yang terletak di dekat Gedung Sate, sekitar 4 km.

Lalu kenapa saya berniat untuk periksa mata? Alasan pertama adalah karena saya merasa sudah tidak bisa melihat garis lurus (gejala mata silinder) dengan tepat ketika mengolah data via Ms Excel. Yang kedua, adanya eye floaters yang cukup mengganggu penglihatan apalagi ketika mata saya amat lelah. Munculnya floaters ini lebih mengkhawatirkan saya ketimbang gejala silinder yang saya alami. Karena (katanya googlefloaters yang parah akan mengakibatkan kebutaan. Wow, hal yang sangat mengerikan bagi saya.

Sekitar pukul 09.10 WIB, tibalah saya ke klinik mata tersebut. Ini merupakan kali pertama saya ke Klinik Mata Netra. Karena belum menguasai medan (halah), walhasil saya pun harus tolah-toleh dulu dan bingung masuk lewat mana. Suasana pagi itu cukup ramai dengan banyaknya mobil dan motor yang parkir serta kerumunan orang – yang entah mau ngapain – di depan loket bertuliskan BPJS.

“Waduh, pagi gini sudah rame banget, apa ngga jadi periksa aja ya?” sempat tebersit pikiran untuk kembali ke kantor karena kerjaan telah menunggu. Namun akhirnya saya buang jauh-jauh pikiran itu, karena ingat kalau menunda itu bukanlah hal yang harus dipupuk.

Setelah beberapa saat saya celingukan dan menoleh kanan kiri, akhirnya saya putuskan untuk mencari (semacam) lobby depan. Saya pun kemudian berjalan menyusuri dinding depan yang bertuliskan ‘Katarak Center’. Kemudian dengan ragu-ragu saya masuk ke sebuah pintu gedung sebelah kiri loket BPJS tadi. Alhamdulillah ternyata nemu juga meja resepsionisnya.

“Ada yang bisa dibantu?” sapa salah satu mbak-mbak resepsionis

Saya pun segera menyerahkan surat rujukan periksa mata dari Telkom yang sebelumnya telah saya urus di hari Jumat pekan lalu.

“Silahkan tunggu dulu disini,” ucap mbaknya sambil menunjuk ruang tunggu

Alhamdulillah, ternyata saya tidak diminta mengantri seperti orang-orang di luar sana. Dan saya bersyukur, tidak jadi give up dan menunda periksa mata hanya karena dari luar tampak antri panjang padahal saya tidak ikut antrian mereka, hehe.

Suasana ruang tunggunya sangat tenang dan nyaman. Beberapa sofa dan kursi kecil ditata sedemikian rupa menghadap kolam ikan koi beraneka warna dan ikan lele yang besar. Suara gemericik air membuat ambience ruangan semakin syahdu. Lalu jadinya? Ngantuk, haha. Tak lama, saya dipanggil menuju ruang pemeriksaan mata dengan salah seorang perawat.

“Ada keluhan apa?”
“Cuma ingin cek kondisi mata,” jawab saya singkat

Perawat segera memberi saya kacamata yang lubangnya ditutup satu. Dilakukanlah pengecekan mata kanan dengan membaca deretan huruf-huruf yang semakin lama semakin kecil. Saya bisa baca semuanya. Dilanjutkan dengan pemeriksaan mata kiri dengan membaca deretan angka yang juga semakin lama semakin kecil. Saya pun bisa membaca semua angkanya.

Dilanjutkan dengan mengecek kondisi mata dengan alat yang saya pun tidak tahu itu apa. Mengecek mata kanan dan mata kiri. Prosedur terakhir yaitu mengecek mata saya dengan alat lain. Saya diminta untuk melihat ke lubang kecilnya dengan sebelah mata – bergantian kanan dan kiri.

“Hati-hati nanti akan ada sedikit angin yang keluar,” begitu kata perawatnya.

Ternyata benar, ada angin yang yang keluar saat saya mendekatkan mata ke lubang kecil tadi. Seperti ditiup saat kelilipan. Setelah itu saya diminta untuk menemui dokter.

“Ada keluhan apa?” tanya dokter berkerudung biru tersebut
“Saya ingin cek mata dok,”
“Tapi sebenarnya akhir-akhir ini mata saya mengalami floaters yang cukup sering, apa itu bahaya dok?” lanjut saya
“Oh, kalau floaters-nya ringan tidak apa-apa. Sebaiknya kita cek nanti syaraf dan retinanya ya. Kalau retinanya masih bagus, berarti masih normal. Kalau retinanya ada yang pecah, harus di laser,” jelasnya

“Sebelumnya  apa pernah pakai kacamata?”lanjutnya bertanya
“Belum pernah dok.”
“Nanti dipakein obat tetes mata dulu ya untuk periksa retinanya, tapi sebelumnya kita periksa dulu disini,” kata dokter berjilbab tadi sambil menunjuk alat yang hampir sama dengan yang digunakan perawat tadi.

Setelah pemeriksaan dengan dokter selesai, perawat mempersilahkan saya duduk kembali di ruang tunggu. Belum sampai 5 menit, perawat tersebut kembali sambil membawa 2 obat tetes mata.

“Mbak, silahkan ditetes dulu pakai obat ini untuk cek retina,” ucapnya
“Saya mbak yang netesin?”
“Ngga nanti saya aja yang netesin, tapi agak perih gapapa ya?”

Setelah kedua mata saya ditetesi cairan entah apa tadi, rasa perih luar biasa mulai merayap mata kanan dan kiri. Sensasi yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Sampai secara tak sadar, saya menghentakkan kedua kaki karena menahan perih.

“Kedip-kedip saja mbak, nanti perihnya akan hilang,” kata perawat tadi

Saya pun mulai mengedipkan mata supaya perihnya cepat hilang.

“Tunggu 30 menit ya sebelum nanti diperiksa lagi sama dokter,”
“Oiya, nanti matanya akan blur dan burem selama kurang lebih 4 jam,”imbuhnya

Sambil menunggu, saya lalu melihat layar handphone. Terlihat beberapa pesan WhatsApp menunggu untuk dibalas. Namun aneh, mata saya tak bisa membaca satu pun huruf di dalam HP. Cuma bisa melihat jam yang ukurannya besar, tulisan yang lain hilang. Subhanallah, mungkin begini ya rasanya jadi orang rabun.

Tapi saya masih bisa melihat sekeliling saya, melihat wajah perawat, pasien lain yang mondar-mandir dan saya masih bisa membaca tulisan-tulisan besar yang ada di papan nama depan pintu. Mata saya lalu tertuju pada kolam ikan koi yang ada di depan saya. Begitu cantiknya ikan koi itu berenang kesana kemari. Juga ada ikan lele yang besar-besar, nampak enak kalau digoreng, haha. Sungguh semua ini ciptaan Allah Yang Maha Kuasa.

Tebersit di pikiran saya betapa tidak enaknya menjadi ‘mendadak buta’. Yang awalnya bisa melihat lukisan dan ciptaan indah Allah di dunia, mendadak gelap. Yang awalnya bisa melihat warna-warni pemandangan alam dan wajah rupawan ciptaan Allah, mendadak hilang.

Bahwa salah satu nikmat yang sering terlupakan adalah nikmat kelima indera. Penglihatan utamanya. Allah bisa saja menjadikan manusia tetiba buta tanpa harus ada kejadian luar biasa. Namun, seringkali kita lupa untuk bersyukur atas nikmat mata ini. Seolah bisa melihat adalah kejadian yang wajar dan setiap saat kita rasakan. Lupa bahwa nikmat sehat dan bisa melihat adalah karunia Allah yang diturunkan setiap detiknya GRATIS.

“Mbak, silahkan ke ruang dokter lagi,” kalimat perawat membuyarkan angan saya

Saya pun kemudian mengikutinya menuju ruang dokter. Disana, dokter memeriksa kedua mata saya dengan menggunakan senter yang sangat menyilaukan. Tapi mata saya dipaksa untuk melihat ke arah cahaya tersebut, mungkin untuk mengecek kondisi retina.

“Jadi gimana dok hasilnya?”tanya saya setelahnya
“Baik kok, retinanya bagus, semua normal,”

Alhamdulillah.

“Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi ada yang harus diwaspadai ketika nanti floatersnya nambah cepat kesini ya,”
“Baik dok, terima kasih banyak,” jawab saya

Saya pun kemudian dipersilahkan untuk menunggu lagi untuk menyelesaikan pembayaran. Berapa ongkosnya? GRATIS kok, terima kasih Telkom, hehe.

Masalah lain muncul setelah ini. Mata saya masih belum bisa melihat tulisan di HP padahal saya harus pesan ojek online untuk kembali ke kantor. Antara ragu dan galau apakah harus menelepon suami untuk menjemput saya padahal suami sedang kerja. Atau nekat naik angkot padahal engga tau trayeknya. Atau pilihan lain minta tolong sama mbak resepsionis untuk memesankan ojeknya dari sini ke kantor. Tiga pilihan yang akhirnya tak jadi saya pilih semuanya.

Saya nekat membuka layar HP dan memutuskan untuk memesan sendiri ojek onlinenya via apps. Dengan kondisi mata yang sangat kabur dan pengetikan menggunakan insting, saya pun berhasil memesan ojek onlinenya. Semoga alamatnya engga salah sih ya, hehe.

Alhamdulillah saya berhasil sampai kantor lagi pukul 10.30 dengan selamat walau supir ojeknya ugal-ugalan dan menyetir dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sampai saya harus bilang jangan kenceng-kenceng woy nyetirnya.

Sesampainya di kantor, saya masih tak bisa membaca satu pun tulisan di HP dan laptop. Akhirnya saya pun diam sejenak. Sesuai dengan kata dokter, bahwa mata saya baru bisa membaca normal lagi sampai jam 2 siang. Tapi ternyata recovery mata saya cukup cepat, buktinya hanya menunggu 1.5 jam saja untuk saya bisa kembali membaca tulisan di HP dan laptop.

Alhamdulillah, hari ini saya sudah periksa mata dan hasilnya normal dan bagus semua. Semoga Allah selalu memberikan kita kesehatan pada semua indera. Aamiin.

Bandung, 20 Juni 2017
Lantai 8 Gedung GMP Bandung

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s