Short Stories

Tentang Pinjam Meminjam

Meminjam kalimatnya Gus Abdur Rozaq:

“Hutang: pinjamnya melas, bayarnya malas.”

Saya lalu ingat kalau saya (masih) ‘terjebak’ dalam hutang-hutangan ini. ‘Fenomena’ perhutangan ini mulai menjadi concern saya sejak ada teman dunia maya yang saya kenal via salah satu komunitas menulis yang ‘berani’ berhutang sama saya walau kami tak pernah bertatap muka. Waktu itu saya percaya saja – dengan akad hutang – untuk mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya. Minggu demi minggu berlalu, bulan berganti tahun dan tak kunjung ada kabar atau hanya sekedar niat untuk membayar hutangnya pada saya. 

Anehnya lagi, walau dia belum bayar hutangnya ke saya, dia berani untuk hutang lagi minta dibelikan pulsa #sabaar. Ya saya nggak mau dong, lha wong hutang pertama saja belum dia lunasi. Saya sampai capek nagihnya. Saya mau ajak ketemuan, beliaunya menolak. Mungkin takut ditagih, padahal niat saya waktu itu hanya untuk menyambung silaturahim dan bertanya apa masalahnya hingga masih belum bisa membayar hutangnya.

Ada lagi teman dunia maya dari komunitas menulis lain yang juga ingin berhutang kepada saya. Mau ngasih, takut nggak dibalikin. Enggak dikasih, tapi kasihan karena menurut saya dia berhutang dengan alasan yang jelas (tidak seperti sebelumnya). Lalu akhirnya saya meminta bantuan teman saya Dhoni Hartanto untuk memberikan uangnya. Dhoni pun kemudian berinisiatif memfoto KTPnya. Setelah saya cerita kalau saya agak trauma menghutangi teman dumay karena kejadian pertama tadi. Alhamdulillah 14% dari hutangnya sudah dikembalikan. Lalu sisa yang 86% kapan baliknya? Wallahualam. Saya pun juga sampai capek nagihnya.

Lalu kenapa saya nagih terus (saya nagihnya baik-baik belum sampai marah-marah, haha)? Apa saya sedang kesusahan finansial? Nggak juga, alhamdulillah Allah masih memberikan rejeki yang cukup. Lalu kembali lagi kenapa saya ngotot nagih? Karena di awal akadnya hutang dan saya hanya manusia biasa yang masih belajar untuk ‘mengikhlaskan hutang’ (dan masih belum bisa sampai sekarang, hehe)

Sampai terpaksa saya tuliskan curhatan di sosial media. Receh memang (mental saya, haha), sampai harus ditulis segala di sini. Saya menuliskan kisah ini dengan tujuan semoga teman-teman saya semua di sini enggak gampang berhutang dan menghutangi. Dan semoga Allah selalu melindungi kita semua supaya nggak gampang berhutang. Aamiin… 

P.S. : Kalau saya punya hutang ke temen-temen, jangan sungkan nagih saya. Karena takutnya saya lupa, tapi temen-temen belum ikhlas. Jangan sampai nanti saya ditagih di akhirat. Terus… ada yang ngerasa masih punya hutang sama saya? Mohon cepet dikembalikan ya 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s