Short Stories

Merindukan Banyak Waktu Bersama Buku

IMG20180512135625
Foto: Dok pribadi yang diambil di Perpustakaan Museum of Contemporary Arts Sydney

Kalau dulu saya punya banyak banget waktu untuk bermesra-mesraan bersama komik rentalan, novel pinjaman dan buku-buku impor punya kenalan, namun hal itu sungguh jauh berbeda dengan sekarang. Dimana saya harus lebih banyak menghabiskan waktu di depan laptop. Bekerja berkejaran mengisi kolom worksheet Ms Excel dan ‘menghias’ Ms Power Point yang entah tak terhitung lagi berapa jam yang tersisa hanya untuk menghela nafas #lebay. Dan di saat yang bersamaan saya harus terengah mengisi kelas menulis online juga merampungkan beberapa antologi yang sama-sama dikejar deadline.

Menjadi karyawan aktif from-8-to-5 ditambah pula kegiatan menulis buku antologi, mengisi kelas menulis online, kadang juga diundang untuk menjadi pembicara seminar kepenulisan di beberapa event, memaksa saya untuk semakin pintar mencari celah. Pintar untuk ‘mencuri waktu’ hanya untuk sekedar membaca buku tanpa terganggu.

Kalau dipikir-pikir, ungkapan “Buku adalah jendela dunia” adalah benar adanya. Books had brings my mind to the next level. Dari buku, saya menemukan banyak hal  dan ilmu baru. Dari buku pula, kosakata saya bertambah kaya. Pun dari buku, saya menemukan banyak teman baru.

Dari dulu hingga sekarang saya tak membatasi jenis bacaan. Waktu masih duduk di bangku sekolah, saya membaca jenis buku apapun. Mulai dari bacaan ‘berat’ seperti buku-buku pelajaran hingga komik Doraemon dan sejenisnya. Mulai dari buku biografi hingga cerita mini. Semuanya saya lahap habis di waktu yang singkat. Kemampuan membaca dalam waktu cepat telah saya peroleh berkat orang tua yang juga suka membaca buku dan membacakan buku setiap malam sebelum tidur. Selalu ada dongeng dan cerita luar biasa setiap harinya. Special thanks to Bapak & Ibuk yang telah mengajari saya untuk lebih menghargai ilmu dan buku daripada harta dan kekayaan.

Dulu orang tua saya juga berlangganan majalah Mentari dan Bobo, hingga saya tak pernah kehabisan bahan bacaan. Juga ada majalah Donal Bebek yang kadang dibelikan Bapak dan selalu jadi bahan rebutan dengan Kakak. Kalaupun habis, saya juga kadang membaca buku-buku biota laut, biota alam dan berbagai buku pengetahuan bergambar yang ada di rak buku Bapak. Kebetulan Bapak adalah kepala perpustakaan di SMA, jadi kadang suka ada buku yang beliau bawa pulang untuk dibaca. Saya pun nimbrung baca juga deh, hehe.

Lalu kalau sekarang kapan dong punya waktu santai buat baca bukunya? Nah itu dia, sampai sekarang saya masih harus menemukan waktu yang pas, dan harus benar-benar ‘mengosongkan pikiran’ demi bisa membaca buku dengan hati tenang. Pernah mencoba beli buku lewat GoogleBooks, namun ternyata mata ini tak kuat membaca e-book. Terlalu lelah. Dan sensasi membuka lembar demi lembar itu seolah punah. Jadi kembali lagi, saya prefer baca buku cetak daripada e-book.

Kembali pada kebiasaan membaca buku yang seolah mengalami degradasi karena kurangnya waktu. Menurut saya, membaca itu penting dilakukan oleh semua orang. Terlebih lagi sebagai seorang ((ehm)) penulis buku, otomatis saya wajib baca buku lebih banyak daripada orang lain. So, jangan ngaku jadi penulis buku kalau kamu ngga suka baca buku!

Cocok dengan kalimat Sa’ad dalam blognya:

Karena jika menulis adalah proses memasak, maka membaca adalah proses mengumpulkan bahan masakan. Bagaimana mungkin kita bisa memasak masakan yang enak kalau tidak ada bahan? maka dari itu, tidak ada jalan lain untuk menjadi penulis. (perbanyak) Membaca dulu, (baru latihan) menulis kemudian.

Lastly, semoga saya masih bisa membagi waktu bersama buku meski kesibukan kian bertambah. Sebagai karyawan, penulis, pengajar, pemateri dan juga sebagai istri. Berkah ini harus banyak saya syukuri. Karena tidak semua orang diberikan kesempatan dan hidayah untuk bebas membaca dan menulis apalagi mengajarkan ilmunya.

Teringat pesan sahabat yang seorang dosen:
“Mbak, gapapa kamu ngga jadi dosen, toh sekarang kamu udah ngajarin banyak orang nulis. Malah capaiannya lebih luas dengan mengajar online. Ngga semua dosen loh punya kesempatan ngajar di luar kelas seperti kamu :)!”

Bandung, 1 Agustus 2018
Blogging di tengah jam kantor

Advertisements

4 thoughts on “Merindukan Banyak Waktu Bersama Buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s