Short Stories

Banyak Nikmat, Kurang Syukur

Pagi ini mendadak saya diingatkan Allah tentang fragmen-fragmen kalimat yang pernah terucap baik dari mulut ataupun dalam hati, yang kemudian menjadi kenyataan. Di waktu yang tepat yang tak dapat saya duga. MasyaAllah.

Yang pertama, saya pernah mbatin (ngomong dalam hati) supaya tidak dipertemukan dengan teman kerja yang lifestyle-nya terlalu berbeda dengan saya. Terlalu kota dengan saya yang ndeso ini. Terlalu keju untuk saya yang singkong ini. Terlalu SK II untuk saya yang cuma kenal Viva. Intinya saya ingin punya sahabat di tempat kerja layaknya sahabat saat masih duduk di bangku sekolah. Tulus tanpa merasa tersaingi. Dan saat itu saya merasa it’s impossible.

Karena pengalaman pahit yang sempat saya alami ketika menjadi pegawai baru, tidak punya teman yang benar-benar sefrekuensi dengan saya. Akhirnya sering saya memilih untuk sendiri daripada memaksa ‘masuk’ dalam pergaulan yang membuat seorang INFJ seperti saya tidak nyaman. Terlalu palsu dan banyak drama yang tidak penting.

Dan tak disangka doa saya terkabul tiga tahun lalu. Allah mempertemukan saya dengan teman-teman kerja yang luar biasa baik dan tulus. Bahkan bisa saya katakan bahwa mereka semua adalah keluarga saya selain keluarga kandung. Hubungan saya dengan workmates bisa sedekat itu, yang kemudian menjadikan saya kembali percaya dengan adanya persahabatan di tempat kerja.

Bonusnya, Allah memberikan saya supervisor yang mampu memaksimalkan potensi saya. Walaupun saya cenderung pasif dan diam di tempat kerja, beliau mampu mendorong saya untuk tampil memberikan potensi terbaik yang saya miliki ke perusahaan.

Bonus yang lain, saya mempunyai sahabat-sahabat perempuan yang baik dan tidak pernah melihat sebelah mata walaupun saya masih udik di kota besar ini. Mereka benar-benar menjadi precious friends bagi saya.

Karena sempat trauma berteman dengan teman kerja perempuan yang pergaulannya terlalu ‘tinggi’ di ibukota. Obrolannya sudah tidak dapat diikuti. Lebih banyak membicarakan brand-brand super high end yang bahkan saya tidak tahu apa bentuk bendanya. Kalau bertanya, sudah pasti saya ditertawakan dan dianggap kampungan. Karenanya saya memilih diam, lebih aman demikian.

Pernah juga saya mendengar pembicaraan yang menusuk dari belakang. Bicara baik di depan orangnya, sementara di belakang memfitnah sana sini. Terlalu menakutkan. Bisa jadi suatu hari saya yang jadi korban.

Yang kedua, ditakut-takuti teman kalau nanti gaji turun jumlahnya dan jadi sering tidak bepergian karena saya memilih pindah unit. Beberapa orang berkata, kamu ga sayang nanti gajimu turun? Ga takut kalau nanti malah ngga bisa ke luar negeri?

Saya hanya jawab dengan senyuman. Rejeki itu Allah yang atur. Dan saya percaya saja. Tidak lagi menginginkan dunia dan seisinya. Karena dunia semakin dikejar juga yang ada semakin menjauh, jauh dari akhirat.

Waktu itu saya memang ditempatkan di unit yang sering berinteraksi secara global, beberapa rekan bahkan sering dinas ke luar negeri. Sementara kesempatan itu belum saya dapatkan, tapi malah memilih pindah. Memilih hijrah untuk mengikuti suami. Niat untuk meraih ridho Allah, ridho suami dan menjadi istri yang baik.

Kenyataannya? Allah beri rejeki yang luar biasa jauh lebih indah daripada semua ekspektasi saya. Allah beri saya kesempatan ke beberapa negara untuk dinas kantor – pergi keliling dunia gratis. Tak pernah saya sangka sebelumnya. Gaji pun demikian, kalau dihitung-hitung jadi lebih banyak daripada di tempat sebelumnya. MasyaAllah.

Yang ketiga, saya pernah minta didoakan Ibu supaya teman kerja saya tidak merokok dan tidak kerja lembur. Ibu tertawa sewaktu saya minta didoakan demikian. Kok aneh? Rokok dan lembur. Ya memang dasarnya saya tidak suka bau rokok dan work overtime.

Selain itu saya juga berdoa semoga Allah mampukan saya untuk selalu bisa beribadah di rumahNya setiap hari. Doa Ibu dan saya kontan dibayar tunai oleh Allah di bulan ini. Karena perpindahan gedung kantor. I won’t go into the details.

Saya mengetahui hal ini karena satu teman kerja pernah bercerita seperti ini:

“Dulu waktu di tempat lama, wah rokoknya ngga berhenti. Jam kerja juga ngga beraturan karena ngga ada bel pulang. Bisa sampe malem banget,” katanya.

Alhamdulillah setelah pindah gedung kantor, sudah tidak pernah tercium asap rokok karena smart open office ini memang tidak memperbolehkan karyawan merokok di dalam ruangan. Pun dengan jam kerja, strict dari jam 8 sampai jam 5. Ada bel masuk dan bel pulang sehingga karyawan mendapatkan work life balance.

Di tempat lama juga tidak ada masjid, hal yang sempat saya khawatirkan. Alhamdulilah pindah ke gedung kantor yang ada masjidnya. Doa itu dikabulkan Allah juga. Dan saya pun mencoba memenuhi ‘janji’ saya untuk konsisten beribadah di rumah Allah. Bismillah.

Masih banyak nikmat yang Allah berikan kepada saya hingga detik ini. Hingga saya malu. Malu karena kurang bersyukur, malu karena banyak permintaan tapi kurang syukurnya. Astaghfirullahaladzim…

Bandung, 24 Okt 2019

2 thoughts on “Banyak Nikmat, Kurang Syukur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s