Short Stories

Welcome October: A New Chapter Awaiting Us (Part 1)

Bismillah. Sebenarnya post ini sudah ditulis mulai Oktober, namun tidak kelar-kelar XD

Salah satu target di tahun 2019 yang ingin saya capai adalah tidak lagi berjauhan dengan suami. Tidak lagi LDM (Long Distance Marriage) Jakarta – Bandung. FYI, sejak tahun 2017 hingga sekarang (hampir dua tahun), saya menjalani hari-hari sebagai manusia yang berdomisili di dua kota. Harus pulang pergi (PP) Bandung – Jakarta setiap pekan karena rumah dan suami di Bandung, sementara lokasi kerja saya di Jakarta.

Hari-hari yang kalau diingat lagi sebenarnya sangat melelahkan (tenaga dan pikiran), namun karena dilakukan bersama teman-teman kantor yang sangat suportif dan perhatian satu sama lain, hal ini menjadi tak terlalu berat. Justru menjadikan saya dan teman kantor dekat seperti keluarga, sometimes they feels more close than a family bond by blood

Mereka semua adalah rekan yang baik, hingga lupa rasa lelah yang melanda karena mobilitas yang super tinggi. Pun dengan workload yang sebenarnya juga sangat tinggi, namun karena atasan dan teammate yang sangat kompak hingga saya tak merasakannya sebagai suatu beban, justru menjadi suatu hal challenging yang bisa saya tunggu-tunggu :). Berangkat kerja jadi semangat, karena environment yang sangat mendukung. ‘Besok Senin’ tak lagi jadi momok, justru jadi membuat semangat karena akan bertemu pekerjaan dan tim yang sangat mendukung karir.

Mari kita flashback sejenak untuk mengetahui kondisi saya sejak tiga tahun terakhir.

2016: Meeting a New Great Team with High Mobility

Maret 2016. Permintaan pindah saya dari kantor Jakarta menuju unit baru di Bandung akhirnya di-approve. Pindah dengan status atas permintaan pribadi untuk mengikuti domisili suami. Jatah pindah atas permintaan pribadi ini hanya berlaku satu kali hingga pensiun. Dan jatah ini sudah saya ‘habiskan’ di tahun 2016. ‘Gosipnya’ kalau pindah dengan cara ini, kantor tidak akan menanggung biaya kesehatan saya sekeluarga, tidak ada juga tunjangan transportasi mutasi dan beberapa isu lainnya yang intinya mengurangi hak-hak karyawan.

Alhamdulillah hal ini tidak sepenuhnya terjadi. Tunjangan kesehatan saya dapatkan penuh baik untuk diri sendiri maupun keluarga, hanya tidak diberikan biaya transportasi mutasi. Selain itu, keuntungan lain tetap saya dapatkan dan tidak berkurang sedikit pun. Mungkin salah satu berkah rejeki untuk mengikuti suami.

April 2016. Saya resmi menjadi staf di unit baru sebut saja unit X. Di sini, saya sudah mengenal satu senior A yang di bulan Januari juga mutasi ke unit X ini. Mas A heran karena saya mutasi ke unit X ini. Dia kemudian berkata:

“Loh kamu kok malah mutasi ke sini? Unit ini bakal pindah ke Jakarta. Kalau engga tahun ini ya tahun depan.”

Sontak saya kaget mendengar kabar itu – yang tidak saya ketahui sebelumnya dari siapapun. Lalu kenapa HR melakukan perpindahan ini kalau pada akhirnya unit X ini akan ke Jakarta juga? Padahal jelas-jelas saya menginginkan lokasi Bandung yang sama dengan lokasi kerja suami.

Flasback beberapa pekan sebelum terjadi mutasi. Sebenarnya saya sudah memegang kesepakatan antar atasan Jakarta dengan unit Y (bukan unit X) di Bandung sebelum pada akhirnya HR memutuskan untuk ‘membelokkan’ surat kesepakatan tersebut tanpa pemberitahuan ke saya. Kecewa? Tentu saja. Kok bisa surat tersebut ‘dibelokkan’ tanpa ijin dulu kepada saya – seolah jalan pindah saya ditutup secara sepihak.

Saat itu saya merasa terdzolimi oleh yang entah siapa, haha. Ya sudah, tidak apa-apa. Saya mencoba terus berbaik sangka terhadap skenario yang Allah beri kepada saya sekarang.

Padahal unit Y ini menurut saya sangat berhubungan dengan latar belakang keilmuan yang telah saya pelajari di bangku kuliah. Dan saya merasa akan sangat cocok berada di sana. Ilmu kuliah saya akan terpakai dan pengetahuan saya pun akan berkembang. Dulu, Mas A yang merekomendasikan saya ke salah satu atasan unit Y ini karena Mas A tahu saya sedang mencari posisi di Bandung.

Namun Allah berkehendak lain dengan menempatkan saya di unit X dan akhirnya bertemu lagi dengan Mas A yang sebelumnya juga satu kantor di Jakarta. Unit yang tidak berkorelasi secara langsung dengan bidang keilmuan saya. Justru berbalik 180 derajat. Dan bisa menjadi challenge tersendiri bagi saya kalau tidak bisa melakukan adaptasi dengan cepat.

Pun teringat beberapa waktu lalu, ada beberapan teman di Jakarta berkata:

“Nanti gajimu bakal turun jauh loh kalau kamu pindah ke Bandung.”

“Nanti kamu ngga akan perjalanan dinas ke luar negeri lo kalau pindah ke Bandung.”

Dan banyak nanti-nanti bernada negatif yang datang dari beberapa teman. Sempat kepikiran juga, namun pada akhirnya saya ingat bahwa setiap pilihan ada resikonya. Dan pilihan saya ini memang memprioritaskan untuk tidak LDM, tidak hanya urusan dunia semata. Meluruskan kembali niat untuk menggapai ridhoNya.

Lalu saya teringat suatu ayat Alquran:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Alhamdulillah, dengan niat awal agar tidak terpisah dengan suami, saya menemukan manisnya berada di unit X ini – bahkan sangat manis hingga kenangan bekerja bersama tim di unit X tak bisa saya lupakan hingga kini.

Saya mendapat leader/atasan yang sangat memahami potensi dan kelebihan para timnya. Saya juga memiliki mentor dan peer kerja yang sangat suportif, mendukung semua pekerjaan yang saya lakukan, mau menjawab beragam pertanyaan dari saya yang masih harus banyak belajar ini hingga curhatan-curhatan di luar pekerjaan menjadi perekat hubungan antar rekan kerja. Surely, I feel like meeting a new great family inside a workplace.

Di tahun 2016 ini pun, Allah memperjalankan saya ke berbagai negara dan kota-kota di Indonesia melalui perjalanan dinas di unit X. Tidak seperti yang dikatakan teman saya di Jakarta kala itu, kalau saya nanti mungkin tidak akan pergi ke luar negeri. Justru karena berada di unit X ini, saya mendapatkan kesempatan pergi ke berbagai negara.

Banyak sekali nikmat yang harus saya syukuri saat berada di sini, teman kantor yang saling mendukung satu sama lain, atasan yang tahu persis di mana letak kelebihan dan kekurangan saya dalam bekerja, hingga kesempatan untuk merasakan perjalanan dinas yang seolah tak ada habisnya – baik di dalam maupun luar negeri. Semua tentunya karena Allah, dan semoga karena niat baik untuk berada dekat dengan suami. Hingga lagi-lagi saya lupa bahwa suatu hari unit X ini akan berpindah ke Jakarta. Lupa bahwa suatu saat saya tak akan lagi menapaki karir saya di unit X ini.

to be continued on Part 2.

3 thoughts on “Welcome October: A New Chapter Awaiting Us (Part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s