Short Stories

Welcome October: A New Chapter Awaiting Us (Part 2)

Baca part 1 di sini.

2017: The Battle Inside Me

Maret 2017. SK pemindahan lokasi kerja unit X yang awalnya di Bandung menuju Jakarta telah muncul. Hal yang paling saya takutkan telah terjadi, berpindah kantor ke Jakarta (lagi). Padahal saat itu saya sudah sangat nyaman dengan semuanya – dengan atasan, dengan rekan kerja, dengan job desc saya, dengan pace kerjanya, dengan lingkungannya, dan dengan teman-teman di unit X.

Bulan itu sebelum SK pindah diberikan, setiap staf diberi kesempatan untuk memilih. Antara tetap stay di unit X atau berpindah unit yang berlokasi di Bandung. Cukup demokratis mengingat kebanyakan mempunyai keluarga yang berdomisili di Bandung. Namun, semua lebih memilih untuk bertahan dan bersama-sama berpindah ke Jakarta dengan bargaining boleh berkantor di Bandung apabila tidak ada yang urgent di Jakarta. Dan akhirnya saya pun memilih bertahan dengan unit X setelah sholat istikharoh dan berdiskusi dengan suami.

Sebenarnya ada beberapa alasan pribadi juga yang mendorong saya untuk memilih kembali menjalani Long Distance Marriage (LDM) di tahun 2017. Saat itu, atasan saya memberikan dua pilihan; 1) ikut pindah dengan konsekuensi jauh dari suami namun beliau memastikan bahwa saya akan diberikan promosi jabatan setelah pindah ke Jakarta, kemudian beliau berjanji akan melepas saya ke unit di Bandung setelah promosi; atau 2) Tidak ikut pindah ke Jakarta, namun akan dibantu mutasi ke unit di Bandung dengan tidak promosi.

Waktu itu karena merasa benar-benar menemukan ‘a rare gem‘ di balik this big corp, saya memilih opsi pertama. Why I called a rare gem? Atasan yang mumpuni, mengetahui secara pasti potensi dan kemampuan apa yang bisa saya lakukan di unit ini, memberikan saya kesempatan belajar seluas-luasnya, serta memperjuangkan saya untuk promosi jabatan, hal langka yang ditemukan di sini.

A rare gem‘ lain adalah mempunyai tim yang koordinasinya sangat sangat cakap dan bisa saling back up, serta tidak pernah ada masalah saling menjegal di belakang, menusuk dari belakang dan beragam drama-drama kantor lainnya. What a miracle I already found since I joined this company. Teman kantor yang serasa seperti teman kuliah, sama-sama berkembang, namun tak saling sikut satu sama lain.

Selain itu, karena sudah tiga tahun sejak saya masuk kantor ini namun belum promosi, saya memutuskan untuk bertahan di unit X. Kalau misal saya memilih opsi kedua, belum ada jaminan bahwa atasan baru akan ‘melihat’ potensi dalam diri saya, mengetahui track record di pekerjaan sebelumnya yang sudah terhitung dua tahun dan memperjuangkan karir saya.

Akhirnya saya kembali menjalani hubungan jarak jauh dengan suami. Cukup melelahkan karena setiap pekan harus bolak-balik Jakarta Bandung, ditambah adanya waktu yang ‘hilang’ akibat perjalanan darat yang kalau dihitung-hitung bisa memakan waktu +- 5 jam dalam satu kali perjalanan, 40 jam dalam sebulan saya habiskan di jalan. Dua hari, ‘tanpa melakukan apapun’. Padahal kalau tidak bolak-balik, mungkin waktu tersebut bisa menjadi sangat produktif untuk hal lainnya. Dengan  schedule yang seperti ini, kalau emosi dan mental tidak dijaga baik-baik bisa uring-uringan dan stres di jalan.

Finally, I choose a Long Distance Marriage (LDM) again. And this time, there were no guarantee when will me and my husband won’t become a LDM couple again.  At first, I still enjoy doing this thing. But over time, I ask myself: “What I’m searching for by doing this thing? When will I won’t be separated again? No one can guarantee it.”

2018: Finding a lot of Opportunities

Awal 2018. Saya mulai galau karena tak kunjung mendapat ‘jaminan karir’ yang dijanjikan di awal tahun 2017. Akhirnya saya memutuskan untuk berdiskusi dengan atasan saya perihal keinginan saya untuk kembali ke Bandung. Alhamdulillah beliau cukup terbuka untuk berdiskusi mengenai masalah seperti ini.

“Kamu boleh cari-cari sendiri kok kerjaan di Bandung, asal kamu ijin dulu ke saya,” kata beliau

Saya diijinkan untuk mencari unit kerja di Bandung atau kantor lain di Bandung selama dalam grup korporasi yang sama dan selama dalam prosesnya ijin terlebih dulu kepada atasan. Oke, lampu hijau sudah saya kantongi. Namun masalahnya, harus mulai dari mana?

Lalu Allah melalui atasan saya, memberikan ide untuk mencoba apply menjadi pengajar di grup yang sama dengan status sebagai pegawai (bukan pengajar). Akhirnya saya coba ikhtiarkan jalan tersebut. Salah satunya dengan menghubungi temannya teman yang sudah menjadi pengajar tetap di kampus tersebut. Awalnya nampak smooth, namun di tengah ada ganjalan-ganjalan dari pihak manajemen sehingga pada akhirnya saya tetap tak bisa membuka ‘pintu’ ini. Harapan itu kandas saat saya sedang dinas ke Surabaya dan ditelpon oleh pihak manajemen bahwa saya tidak dapat diterima di kampus tersebut.

April 2018. Saya coba mengirimkan email kepada salah satu dosen senior (setelah di encourage temannya teman untuk tetap menjadi pengajar) di tempat tujuan saya melamar tadi, meminta untuk diberikan solusi atas ‘mentok’-nya saya tadi. Ibu dosen yang baik tersebut mencoba mensolusikan dengan menawari saya untuk mengikuti close recruitment dan mencoba tetap mempertahankan status pegawai tetap saat mengajar. Beliau berkata, sayang kalau nanti saya menjadi dosen kontrak padahal sudah menjadi pegawai tetap hampir empat tahun.

Namun Allah lagi-lagi belum membukakan pintu perpindahan lewat jalur ini. Mungkin Ibu belum ridho, karena sebelumnya Ibu agak keberatan dengan jalur close recruitment karena seolah lewat ‘jalur khusus’. Padahal tidak juga karena saya tetap menjalani microteaching test. Dan saya ingat betul persiapan saya untuk menjalani tes ini seperti menghadapi real placement test. Karena saya sangat berharap bisa menjadi pengajar di sini. Tapi yaa ridho Allah ada pada ridho orang tua dan mungkin memang belum rejeki untuk menjadi pengajar di sana :’).

Mei 2018. SK itu pun terbit. SK promosi jabatan yang dijanjikan oleh atasan saya di tahun sebelumnya. Beliau tidak bohong dan memperjuangkan jenjang karir saya. Bismillah amanah baru diemban. Dengan begini saya ‘tinggal’ menagih janji atasan untuk mengembalikan saya ke lokasi Bandung :’). Namun nyatanya tidak semudah itu. Perpindahan ke Bandung semakin lama semakin kabur – tak terbayang bagaimana caranya. Harus menempuh langkah yang mana lagi hingga saya bisa pindah dengan baik-baik tanpa drama.

Serasa semua ikhtiar sudah dikerahkan, namun Allah tak kunjung membukakan jalan. Mulai dari mencari calon pengganti yang ingin masuk unit X, menyerahkan beberapa CV teman kepada atasan – namun terhambat satu dan lain hal, membuat pengumuman blast ke grup-grup yang sekiranya ada yang ingin berpindah dari Bandung ke Jakarta, hingga rekan-rekan yang lain juga mulai mencarikan pengganti saya. Terharu rasanya karena dibantu sesama rekan kerja untuk bisa pindah. Namun selalu ada penghalang sehingga saya tak kunjung mendapat ‘pengganti’.

Karena memang sudah menjadi rahasia umum bahwa melepaskan staf adalah hal tersulit yang dilakukan di sini. Dan saya mulai kehilangan harapan untuk dapat berpindah ke Bandung.

Saat itu saya berada di titik dimana saya sudah lelah mencari kesempatan untuk berpindah lokasi kerja. Seolah antara tahun 2017 hingga 2018 sudah beragam cara saya lakukan, namun tak kunjung mendapatkan hasil. Apakah saya harus memilih cara resign dan pergi dari perusahaan yang telah membesarkan saya ini? Dan memulai karir baru di bidang akademisi? Atau saya memilih fokus menjadi penulis saja?

to be continued on the last part.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s